Menggapai Surga Dengan Taqwa

Menggapai Surga Dengan Taqwa

  • 26 April 2018, 15:14
  • mysuper

Merupakan suatu kebahagiaan tersendiri dikala Allah mencintai hamba-Nya. Dan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam telah memberitahukan kepada kita siapakah di antara hamba-hamba Allah yang dicintai-Nya.

Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqos, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa, kaya (hati) dan menyembunyikan amalan kebaikannya.(HR. Muslim).

Inilah tiga sifat dimana Allah akan mencintainya Hamba yang bertakwa, kaya (hati) dan menyembunyikan amalan kebaikannya.

Sifat ketakwaan dengan berbagai macam turunan katanya, Allah sebutkan sebanyak 258 kali dalam Al-Quran. Bagaimanakah seseorang yang tersibgoh (tercelup) dengan sifat ketakwaan ini dalam kehidupan sehari-hari? Coba kita buka lembaran sejarah yang menggambarkan alangkah indahnya sifat ini manakala telah terpatri dalam diri seseorang.

Diceritakan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah ditanya seorang wanita sampai beliau menangis. Suatu pertanyaan yang diluar dugaan bagi kebanyakan orang. Sampai Imam Ahmad sendiri trenyuh dengan pertanyaan itu.

Wahai Imam Ahmad, kami terbiasa merajut benang malam hari. Terkadang memakai sinar lampu tetangga. Ketika padam, kita memakai sinar rembulan. Apakah ketika akan kita jual harus dipisahkan antara hasil dari lampu tetangga dengan lampu rembulan? Sungguh luar biasa sifat wara’ (kehati-hatian) dalam mengais rezki. Dimana sifat ini sekarang hampir punah di kehidupan kita.

Ketika ditanya balik, Siapa anda wahai hamba Allah?, ternyata beliau adalah suadari Basyar Al-Hafi rahimahullah. Kemudian Imam Ahmad mengomentari, Dari rumah anda akan keluar orang wara shodiq (sifat waro yang jujur). Itu salah satu dari dampak ketakwaan pada diri seseorang.

Bahkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pernah begadang tidak bisa tidur, sebagaimana dalam riwayat Ahmad. Ketika ditanyakan, beliau menjawab, Saya menemukan kurma terjatuh di jalan. Kemudian saya memakannya. Setelah itu saya teringat, apakah ia kurma shodaqah, atau kurma keluargaku. Hal itu yang menjadikan saya terjaga tidak bisa tidur. Masya Allah…itulah sifat rasa takut kepada Allah karena ketakwaan yang ada dalam diri beliau.

Di antara dampak sifat ketakwaan pada diri seseorang adalah senang menyendiri dan seringkali menangis karena takut kepada Allah. Umar bin Khottob meskipun terkenal ketegasan dan kewibawaannya, kedua pipi beliau menghitam karena seringkali menangis di waktu malam. Sungguh sifat ketakwaan yang melekat pada diri beliau dan kelembutan hatinya. Itu sifat yang disebutkan Dzahabi dalam Siyar Alamun Nubala (Biografi Para Ulama Nan Cemerlang).

Di antara dampak ketakwaan dalam diri seseorang yaitu obsesi utamanya adalah akhirat dan keterkaitan hati dengannya. Qosim bin Muhammad menceritakan ketika bepergian dengan Abdullah bin Mubarak, dalam benaknya selalu bertanya kenapa Abdullah bin Mubarak terkenal di antara para ulama sehingga beliau ingin mengetahui rahasianya. Dalam perjalanan ke Syam, ternyata lampu rombongan rusak sehingga harus diperbaiki di waktu malam gulita. Ketika selesai diperbaiki dan terlihat di jenggot beliau penuh basah dengan air mata, karena membayangkan gelapnya akhirat kelak. Keterikatan kuat hati beliau dengan akhirat inilah yang menjadikan beliau terkenal akan kezuhudannya.

Bahkan salah seorang murid Imam Sofyan Tsauri menceritakan tentang gurunya, dan memperhatikan baik dalam kesepian maupun dalam keramaian. Yang menarik diperhatikan dari gurunya, seringkali dalam setiap kesempatan membawa kertas, setiap kali ada kesempatan beliau membacanya. Sehingga beliau heran apa rahasia kertasnya. Dan muridnya berusaha semaksimal mungkin ingin mengetahui rahasia apa yang tertulis dalam kertas tersebut. Sampai suatu ketika beliau berkesampatan mengetahui tulisan dalam kertas tersebut. Apa kira-kira tulisan dalam kertas tersebut? Ternyata tertulis Wahai Sofyan…ingatlah ketika anda dihadapan Allah!!! Sungguh peringatan yang senantiasa beliau baca dalam setiap kesempatan agar tidak melalaikan Allah Subhanahu wataala.

Itulah diantara dampak nyata ketakwaan dalam diri seseorang. Tumbuhnya sifat wara(kehati-hatian), rasa takut kepada Allah, menyendiri dan terbasahi pipi dengan deraian air mata serta obsesi utamanya adalah akhirat dengan senantiasa keterkaitan hati kepadanya. Sehingga menjadikan jalan menuju ke surga Allah yang senantiasa menantinya.

Jalan menuju rahasia ketakwaan ini secara singkat adalah:

Mengenal Allah secara baik. Siapa yang lebih mengenal Allah, maka dia akan semakin lebih takut kepada-Nya.
Memperbanyak mengingat kematian dan kehidupan akhirat. Membayangkan kondisi kita dihadapan Allah Subhanahu wata’ala dengan kondisi yang masih banyak dosa. Akan membangkitkan rasa takut kita kepada Allah.
Menyaksikan kenikmatan yang Allah berikan kepada kita. Kenikmatan terbesar adalah nikmat iman dan Islam. Kita patut bersyukur akan kenikmatan yang luar biasa ini ketika kita melihat kesesatan dan kekafiran orang di sekitar kita.
Menguatkan hati berteman dengan orang-orang bertakwa. Baik secara langsung ketika kita mendapatkan orang baik lagi bertakwa kepada Allah atau secara tidak langsung dengan duduk membaca biografi para ulama dalam kitab sejarah.
Inilah secara singkat rahasia menuju ketakwaan. Semoga Allah karuniakan kepada kita hati yang bertakwa dan mencontoh kehidupan orang muttaqin sehingga menghantarkan kita menuju jannatin na’im (surga penuh kenikmatan)… aamiin.


Kirim Komentar